Pengertian Distorsi (ekonomi)
Distorsi
(ekonomi) (atau
ketidaksempurnaan pasar) adalah yang membuat kondisi ekonomi ketidak efisien
sehingga mengganggu agen ekonomi dalam memaksimalkan kesejahteraan sosial dalam
rangka memaksimalkan kesejahteraan mereka sendiri. [1]
Sebuah kondisi dimana
dipergunakan untuk mengukur distorsi adalah deviasi antara harga pasar yang
bagus dan biaya marjinal yaitu perbedaan antara tingkat substitusi marjinal di
konsumsi dan transformasi marjinal ditingkat produksi. Seperti itu dapat
mengakibatkan deviasi dari monopoli, tarif dan kuota impor, yang pada teori
dapat menimbulkan beberapa jenis perilaku disebutpebisnis numpang lewat. Sumber distorsi
adalah uncorrected eksternalitas, [2] Diskriminasi
pajak pada harga barang atau pendapatan,[3][4][5] inflasi, [6] dan
informasi lengkap. Masing-masing yang dapat mengakibatkan kerugian bersih
dipihak konsumen. [7][8] Pada
kondisi ideal adalah keadaan dimana adanya persaingan sempurna tanpa adanya
distorsi pasar sehingga terjadi keseimbangan dari penawaran dan permintaan.
sumber;wikipediadotcom.
Ditulis
dalam ilmu Ekonomi |
Dengan kaitkata: akuntansi, akuntansi
manajemen, bidang
ekonomi, campuran
ekonomi, ekonomi, ekonomi
campuran, ekonomi
makro, ekonomi
mikro, ilmu
ekonomi, ilmu
ekonomi terapan, istilah
ekonomi, keadaan
ekonomi,kompensasi, kuliah
ekonomi, manajemen, manajemen
pemasaran, matakuliah
ekonomi, pengertian
akmen, pengertian
akuntansi manajemen, Pengertian
Distorsi (ekonomi), pengertian
ilmu ekonomi, pengertian
inflasi, pengertian
pemerintah,pengertian
swot, pengetahuan, prinsip, prinsip
manajemen, ranguman, ringkasan,s.w.o.t, sejarah
ekonomi, sejarah
perekonomian indonesia, sejarah
perkembangan ilmu ekonomi, seorang
ekonom | Leave a Comment »
Pengertian Ceteris paribus
Cēterīs
pāribus adalah
istilah dalam bahasa Latin, yang secara harafiah dalam bahasa Indonesia dapat
diterjemahkan sebagai “dengan
hal-hal lainnya tetap sama“, dan dalam bahasa Inggris biasanya
diterjemahkan sebagai “all
other things being equal.”
Dalam ilmu ekonomi, istilah ceteris
paribus seringkali
digunakan, yaitu sebagai suatu asumsi untuk menyederhanakan beragam formulasi
dan deskripsi dari berbagai anggapan ekonomi.
Sebagai contoh, dapatlah
dikatakan bahwa:
Harga dari daging sapi akan meningkat — ceteris
paribus — bila
kuantitas daging sapi yang diminta oleh pembeli juga meningkat.
Dalam contoh tersebut,
penggunaan ceteris paribus adalah untuk menyatakan hubungan
operasional antara harga dan kuantitas suatu barang (daging sapi). Ceteris
paribus di sini
berarti bahwa asumsi yang diambil ialah mengabaikan berbagai faktor yang
diketahui dan yang tidak diketahui yang dapat mempengaruhi hubungan antara
harga dan kuantitas permintaan. Faktor-faktor tersebut misalnya termasuk: harga
barang substitusi (misalnya harga daging ayam atau daging kambing), tingkat
penghindaran risiko para pembeli (misalnya ketakutan pada penyakit sapi gila),
atau adanya tingkat permintaan keseluruhan terhadap suatu barang tanpa
memperhatikan tingkat harganya (misalnya perpindahan masyarakat kepada
vegetarianisme).
sumber: wikipediadotcom
Ditulis
dalam ilmu Ekonomi |
Dengan kaitkata: akuntansi, akuntansi
manajemen, bidang
ekonomi, campuran
ekonomi, ekonomi, ekonomi
campuran, ekonomi
makro, ekonomi
mikro, ilmu, ilmu
ekonomi, ilmu
ekonomi terapan, istilah
ekonomi, keadaan
ekonomi,kompensasi, kuliah
ekonomi, manajemen, manajemen
pemasaran, matakuliah
ekonomi, pengertian
akmen, pengertian
akuntansi manajemen, Pengertian
Ceteris paribus, pengertian
ilmu ekonomi, pengertian
inflasi, pengertian
pemerintah,pengertian
swot, pengetahuan, prinsip, prinsip
manajemen, ranguman, ringkasan,s.w.o.t, sejarah
ekonomi, sejarah
perekonomian indonesia, sejarah
perkembangan ilmu ekonomi, seorang
ekonom | Leave a Comment »
Pengertian Investasi
Investasi adalah
suatu istilah dengan beberapa pengertian yang berhubungan dengan keuangan dan
ekonomi. Istilah tersebut berkaitan dengan akumulasi suatu bentuk aktiva dengan
suatu harapan mendapatkan keuntungan dimasa depan. Terkadang, investasi disebut
juga sebagaipenanaman
modal.
Pengertian
Berdasarkan teori ekonomi,
investasi berarti pembelian (dan berarti juga produksi) dari kapital/modal
barang-barang yang tidak dikonsumsi tetapi digunakan untuk produksi yang akan
datang (barang produksi). Contoh termasuk membangun rel kereta api, atau suatu
pabrik, pembukaan lahan, atau seseorang sekolah di universitas. Untuk lebih
jelasnya, investasi juga adalah suatu komponen dari PDB dengan rumus PDB = C +
I + G + (X-M). Fungsi investasi pada aspek tersebut dibagi pada investasi
non-residential (seperti pabrik, mesin, dll) dan investasi residential (rumah
baru). Investasi adalah suatu fungsi pendapatan dan tingkat bunga, dilihat
dengan kaitannya I= (Y,i). Suatu pertambahan pada pendapatan akan mendorong
investasi yang lebih besar, dimana tingkat bunga yang lebih tinggi akan
menurunkan minat untuk investasi sebagaimana hal tersebut akan lebih mahal dibandingkan
dengan meminjam uang. Walaupun jika suatu perusahaan lain memilih untuk
menggunakan dananya sendiri untuk investasi, tingkat bunga menunjukkan suatu
biaya kesempatan dari investasi dana tersebut daripada meminjamkan untuk
mendapatkan bunga.
Produk-produk Investasi
Beberapa produk investasi
dikenal sebagai efek atau surat berharga. Dimana definisi Efek adalah suatu
instrumen bentuk kepemilikan yang dapat dipindah tangankan dalam bentuk surat
berharga, saham atau obligasi, bukti hutang (Promissory Notes), bunga atau
partisipasi dalam suatu perjanjian kolektif (Reksa dana), Hak untuk membeli
suatu saham (Rights), Warrant untuk membeli saham pada masa mendatang atau
instrumen yang dapat diperjual belikan.
Bentuk-bentuk investasi
- Investasi tanah diharapkan dengan bertambahnya populasi dan penggunaan tanah; harga tanah akan meningkat di masa depan.
- Investasi pendidikan dengan bertambahnya pengetahuan dan keahlian, diharapkan pencarian kerja dan pendapatan lebih besar.
- Investasi saham diharapkan perusahaan mendapatkan keuntungan dari hasil kerja atau penelitian.
sumber :wikipedia.com
Ditulis
dalam ilmu Ekonomi |
Dengan kaitkata: akuntansi, akuntansi
manajemen, apa
yang dimaksud dengan investasi?, bidang
ekonomi, campuran
ekonomi, ekonomi,ekonomi
campuran, ekonomi
makro, ekonomi
mikro, ilmu, ilmu
ekonomi, ilmu
ekonomi terapan, investasi, istilah
ekonomi, keadaan
ekonomi, kompensasi, kuliah
ekonomi, macam-macam
investasi, manajemen, manajemen
pemasaran, matakuliah
ekonomi, pengertian
akmen, pengertian
akuntansi manajemen, pengertian
ilmu ekonomi, pengertian
inflasi, pengertian
investasi, pengertian
pemerintah, pengertian
swot, pengetahuan, prinsip, prinsip
manajemen, ranguman, ringkasan, s.w.o.t, sejarah
ekonomi, sejarah
perekonomian indonesia, sejarah
perkembangan ilmu ekonomi,seorang
ekonom | Leave a Comment »
Pengertian Divestasi
Dalam finansial and ekonomi, divestasi adalah pengurangan beberapa jenis aset
baik dalam bentuk finansial atau barang, dapat pula disebut penjualan dari
bisnis yang dimiliki oleh perusahaan. Ini adalah kebalikan dari investasi pada
aset yang baru.
Motif
Perusahaan memiliki beberapa
motif untuk divestasi.
Pertama, sebuah perusahaan
akan melakukan divestasi (menjual) bisnis yang bukan merupakan bagian dari
bidang operasional utamanya sehingga perusahaan tersebut dapat berfokus pada
area bisnis terbaik yang dapat dilakukannya. Sebagai contoh, Eastman Kodak,
Ford Motor Company, dan banyak perusahaan lainnya telah menjual beragam bisnis
yang tidak berelasi dengan bisnis utamanya.
Motif kedua untuk divestasi
adalah untuk memperoleh keuntungan. Divestasi menghasilkan keuntungan yang
lebih baik bagi perusahaan karena divestasi merupakan usaha untuk menjual
bisnis agar dapat memperoleh uang. Sebagai contoh, CSX Corporation melakukan
divestasi untuk berfokus pada bisnis utamanya yaitu pembangunan rel kereta api
serta bertujuan untuk memperoleh keuntungan sehingga dapat membayar hutangnya
pada saat ini.
Motif ketiga bagi divestasi
adalah kadang-kadang dipercayai bahwa nilai perusahaan yang telah melakukan
divestasi (menjual bisnis tertentu mereka) lebih tinggi daripada nilai
perusahaan sebelum melakukan divestasi. Dengan kata lain, jumlah nilai aset
likuidasi pribadi perusahaan melebihi nilai pasar bila dibandingkan dengan
perusahaan pada saat sebelum melakukan divestasi. Hal ini memperkuat keinginan
perusahaan untuk menjual apa yang seharusnya bernilai berharga daripada
terlikuidasi pada saat sebelum divestasi.
Motif keempat untuk divestasi
adalah unit bisnis tersebut tidak menguntungkan lagi. Semakin jauhnya unit
bisnis yang dijalankan dari core competence perusahaan, maka kemungkinan gagal
dalam operasionalnya semakin besar.
Metode divestasi
Beberapa perusahaan
menggunakan teknologi untuk memfasilitasi proses divestasi beberapa divisi.
Mereka mempublikasikan informasi tentang divisi mana saja yang ingin mereka
jual pada situs resmi mereka sehingga dapat dilihat oleh perusahaan lain yang
sekiranya tertarik untuk membeli divisi tersebut. Sebagai contoh, Alcoa telah
mendirikan sebuah online showroom yang menampilkan divisi yang mereka
jual. Dengan melakukan komunikasi secara online, Alcoa telah
mengurangi biaya yang dibutuhkan untuk membiayai divisi yang bergerak pada
hotel, usaha transportasi, dan urusan pertemuan.
sumber: wikipediadotcom
Ditulis
dalam ilmu Ekonomi |
Dengan kaitkata: akuntansi, akuntansi
manajemen, bidang
ekonomi, campuran
ekonomi, divestasi, ekonomi, ekonomi
campuran, ekonomi
makro, ekonomi
mikro, ilmu, ilmu
ekonomi, ilmu
ekonomi terapan, istilah
ekonomi,keadaan
ekonomi, kompensasi, kuliah
ekonomi, manajemen, manajemen
pemasaran,matakuliah
ekonomi, pengertian
akmen, pengertian
akuntansi manajemen,Pengertian
Divestasi, pengertian
ilmu ekonomi, pengertian
inflasi, pengertian
pemerintah, pengertian
swot, pengetahuan, prinsip, prinsip
manajemen, ranguman,ringkasan, s.w.o.t, sejarah
ekonomi, sejarah
perekonomian indonesia, sejarah
perkembangan ilmu ekonomi, seorang
ekonom | Leave a Comment »
Pengertian Spekulasi
Spekulasi,
keuangan dalam artian sempit yaitu termasuk membeli, memiliki, menjual, dan
menjual short saham, obligasi, komoditi, mata uang,
koleksi, real estate, derivatif, ataupun instrumen keuangan lainnya dengan
tujuan untuk memperoleh keuantungan dari fluktuasi harga dimana pembelian
tersebut bukannya untuk digunakan sendiri atau untuk memperloeh penghasilan
yang timbul dari deviden atau bunga . Spekulasi atau agiotage pada pasar keuangan adalah berbeda
dengan apa yang disebut lindung nilai, investasi jangka panjang ataupun pendek,
dan arbitrasi.
Spekulasi dapat terjadi pada
sebagian besar perdagangan komoditi namun yang terbanyak adalah pada transaksi
perdagangan berjangka dan transaksi derivatif lainnya .
Benjamin Graham seorang pakar
analisa sekuriti memberikan definisi dari spekulasi ditinjau dari sudut
investasi yaitu ” suatu kegiatan investasi adalah investasi yang dilakukan
dengan cara melakukan analisa keuangan secara seksama, menjanjikan keamanan
modal dan kepuasan atas tingkat imbal hasil . Kegiatan yang tidak memenuhi
prasyarat tersebut adalah merupakan tindakan spekulatif. “
Manfaat ekonomi dari kegiatan spekulasi
layanan jasa yang disediakan
oleh spekulator kepada pasar utamanya adalah dengan menaruh modalnya kedalam
suatu risiko dengan harapan memperoleh suatu keuntungan, mereka menambahkan
likuiditas kepada pasar dan mempermudah bagi orang lain untuk mengurangi
risiko, termasuk mereka-mereka yang diklasifikasikan sebagai hedger dan arbitraser.
Etimologi
Kata “spekulasi” berasal dari
bahasa Latin speculatus, yang
merupakan bentuk kalimat lampau dari speculari , yang artinya “melihat kedepan” ,
mengamati, dan menelaah. Kata speculari itu sendiri merupakan turunan dari
kata specula, yang berasal dari specere yang artinya “untuk melihat”, yang
merupakan serdadu Roma yang bertugas mengawasi perkampungan serdadu yang
disebut castrum. Dalam kata ini ditemukan
persamaan etimologik dari kalimat kontemporer yang menunjukkan pada suatu
aktivitas “memandang dari jauh” di angkasa dan juga didalam waktu. Dari kalimat
“specula” inilah asal kata dalam bahasa Latin “speculatio, speculationis”,
suatu aktivitas penyelidikan filosofi. Kalimat ini masih digunakan saat ini
dalam dunia filosofi sebagai “suatu kegiatan berteori tanpa didukung dengan
suatu dasar fakta yang kuat, sebagaimana halnya dalam dunia keuangan modern
dimana seorang spekulator melaksanakan suatu transaksinya dengan tapa didukung
oleh suatu dasar statistik.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar