Hidup yang Semakin Keras
Lihat disekeliling kita, terlalu
tinggi tingkat pengangguran karena disebabkan sulitnya mencari pekerjaan. Dan
akhirnya kemiskinan pun merajalela. Pernah dengar lagu dari Bapak Iwan Fals
yang berjudul Sarjana Muda ? Seorang teman saya pernah merekomendasi untuk
mendengarkan lagu ini. Dan ketika pertama kali mandengarnya, saya langsung
sadar akan sesuatu. Mungkin saat ini saya bisa bersenang-senang dengan
menghambur-hamburkan uang hasil pekerjaan kedua orang tua saya. Tapi, bagaimana
dengan kehidupan saya nanti ?
Coba perhatikan lirik lagu dibawah
ini.
Berjalan seorang pria muda
Dengan jaket lusuh dipundaknya
Di sela bibir tampak mengering
Terselip s’batang rumput liar
Dengan jaket lusuh dipundaknya
Di sela bibir tampak mengering
Terselip s’batang rumput liar
Jelas menatap awan berarak
Wajah murung s’makin terlihat
Dengan langkah gontai tak terarah
Keringat bercampur debu jalanan
Wajah murung s’makin terlihat
Dengan langkah gontai tak terarah
Keringat bercampur debu jalanan
Reff I :
Engkau sarjana muda
Resah mencari kerja
Mengandalkan ijasahmu
Empat tahun lamanya
Bergelut dengan buku
‘Tuk jaminan masa depan
Langkah kakimu terhenti
Di depan halaman sebuah jawaban
Resah mencari kerja
Mengandalkan ijasahmu
Empat tahun lamanya
Bergelut dengan buku
‘Tuk jaminan masa depan
Langkah kakimu terhenti
Di depan halaman sebuah jawaban
Termenung lesu engkau melangkah
Dari pintu kantor yang di harapkan
Tergiang kata tiada lowongan
Untuk kerja yang di dambakan
Dari pintu kantor yang di harapkan
Tergiang kata tiada lowongan
Untuk kerja yang di dambakan
Tak peduli berusaha lagi
Namun kata sama yang kau dapatkan
Jelas menatap awan berarak
Wajah murung s’makin terlihat
Namun kata sama yang kau dapatkan
Jelas menatap awan berarak
Wajah murung s’makin terlihat
Reff II :
Engkau sarjana muda
Resah mencari kerja
Tak berguna ijasahmu
Empat tahun lamanya
Bergelut dengan buku
Resah mencari kerja
Tak berguna ijasahmu
Empat tahun lamanya
Bergelut dengan buku
Sia-sia semuanya
Setengah putus asa dia berucap
“maaf ibu…”
Setengah putus asa dia berucap
“maaf ibu…”
Banyak perusahaan yang hanya
menerima karyawan dengan status pendidikan tertentu. Sedangkan masyarakat kita
masih banyak yang tidak mendapatkan pendidikan yang formal. Sekarang ijazah SMA
(Sekolah Menengah Atas) lebih sering dipekerjakan di poisisi cleaning service.
Bahkan mereka yang mempunyai gelar dan ijazah kuliah Strata 1 pun belum tentu
bisa mendapatkan pekerjaan yang layak. Bayangkan, mereka para darah muda yang
masi aktif dan berpendidikan saja sulit mendapat pekerjaan, apalagi mereka yang
tidak mendapatkan pendidikan yang layak karena disebabkan ekonomi yang rendah.
Bagaimana masa depannya ? Bagaimana masa depan keluarganya kelak ?
Kemiskinan dan pengangguran juga
membuat tingkat kriminalitas dan tingkat pelacuran meningkat.Yang tidak halal
jadi halal untuk mendapatkan uang. Orang pastinya jadi ilang pikiran karena
adanya keterpaksaan. Mungkin kamu pernah liat berita tentang seseorang yang
mencuri untuk membiayai kehidupan keluarganya ? Sering ditelevisi kita liat
berita seperti itu. Semua itu terjadi karena mereka tidak bisa membiayai
kehidupannya.
Maka dari itu, terkadang saya suka
miris bila menonton suatu acara reality show yang menggambarkan kesulitan hidup
masyarakat dengan tingkat ekonomi rendah. Untuk sesuap nasi, mereka rela
membanting tulang untuk mendapat makanan dari uang yang halal. Kerja siang
malem secara serabutan hanya cukup untuk membiayai biaya makan yang belum tentu
bisa merasakan kenyangnya makan nasi. Bagaimana dengan mereka yang sudah
berkeluarga dan mempunyai anak yang butuh pendidikan ? Tentunya butuh biasa
ekstra lagi untuk itu. Sampai sampai sosok seorang ibu yang biasanya mengurus
rumah pun harus turut turun membanting tulang untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Kehidupan semakin keras. Seperti
halnya seleksi alam, siapa yang tidak kuat akan mati. Mau tidak mau, setiap
orang harus mau melakukan pekerjaan apapun demi kelangsungan hidupnya tanpa
melihat kesetimbangan upah kerja yang layak atau tidak. Istilahnya kita diberi
2 pilihan, mau makan atau tidak.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar